Perbedaan Stroke Hemoragik dan Nonhemoragik

Perbedaan Stroke Hemoragik dan Nonhemoragik

Setiap tahun penyakit stroke dinobatkan sebagai salah satu penyebab kematian terbanyak dan peyakit umum di Indonesia. Masyarakat luas mengenal hanya satu jenis stroke, kenyataannya ada beberapa jenis. Seperti perbedaan stroke hemoragik dan nonhemoragik yang paling sering dialami.

Faktor seseorang mengalami stroke juga beragam. Misalnya karena genetik, riwayat penyakit, hipertensi, diabetes, dan gaya hidup tidak sehat. Stroke yang lebih banyak dialami manusia adalah stroke nonhemoragik karena tidak berbahaya. Berbeda dengan stroke hemoragik disinyalir berbahaya dan menyebabkan kerusakan otak jangka panjang.

Perbedaan Stroke Hemoragik dan Nonhemoragik

Perbedaan Stroke Hemoragik dan Nonhemoragik
source: pixabay.com

Simak perbedaan stroke hemoragik dan nonhemoragik berikut ini. Check this out!

1. Stroke Hemoragik

Jenis stroke hemoragik memiliki tingkat berbahaya yang tinggi. Dimana kondisi pembuluh darah pada otak penderita mengalami bocor atau pecah karena beberapa faktor, yakni:

  • Tekanan darah tinggi tidak dapat dikontrol
  • Konsumsi obat-obatan pengencer darah secara berlebihan
  • Memiliki benjolan atau aneurisma pada pembuluh darah
  • Pernah mengalami benturan keras atau kecelakaan

Adapun gejala-gejala yang ditunjukkan oleh penderita cukup beragam. Mulai dari sakit kepala luar biasa datang tiba-tiba, kebas pada kaki atau tangan, sulit berbicara dan memahami perkataan orang, gangguan penglihatan, dan kehilangan keseimbangan. 

Saat seseorang mengalami stroke hemoragik masih ada harapan untuk sembuh. Kesembuhan terjadi jika melakukan berbagai perawatan seperti berikut:

  • Transfusi darah dan pemberian obat-obatan untuk menghentikan efek dari obat pengencer darah
  • Mengonsumsi obat-obatan penurun tekanan intrakranial pada otak
  • Melakukan operasi agar mengeluarkan bekuan darah dan meminimalisir tekanan pada otak
  • Memasang penjepit pembuluh darah guna mencegah pembuluh darah pecah (aneurisma)

Penderita stroke hemoragik cenderung menerima penanganan medis untuk mengembalikan aliran darah. Biasanya penderita hanya memperoleh perawatan inap di rumah sakit dalam beberapa hari. Selanjutnya perawatan dapat dilakukan dengan rehabilitasi dan terapi guna mengembalikan fungsi motorik dan kognitif otak.

Baca juga: Trip Labuan Bajo, Sambut Liburan Ter-Hits di Sini

2. Stroke Nonhemoragik

Perbedaan Stroke Hemoragik dan Nonhemoragik
source: doktersehat.com

Stroke nonhemoragik merupakan penyakit stroke dialami karena sumbatan dalam aliran darah pada otak.  Stroke nonhemoragik lebih dikenal sebagai stroke iskemik. Ada beberapa kebiasaan yang memicu stroke nonhemoragik terjadi, antara lain:

  • Obesita atau kelebihan berat badan
  • Kurang berolahraga
  • Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol dan merokok
  • Menggunakan narkotika (kokain dan methamphetamine)
  • Ada riwayat penyakit kronis (contohnya penyakit jantung, gangguan irama jantung, diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi)

Sedangkan stroke nonhemoragik (stroke iskemik) disebabkan dari 2 kemungkinan. Pertama, terjadi penggumpalan darah pada pembuluh darah di otak manusia. Kedua, terjadi penggumpalan darah pada area lain dan dibawa oleh aliran darah ke otak. Akibat adanya gumpalan tersebut menghentikan aliran darah yang membawa nutrisi dan oksigen menuju bagian otak.

Stroke nonhemoragik dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia. Umumnya penderita stroke nonhemoragik menunjukkan gejala-gejala berikut:

  • Mati rasa pada bagian wajah, tungkai, dan lengan yang dialami secara tiba-tiba
  • Tiba-tiba mengalami kebingungan
  • Gangguan berbicara sekaligus sulit mengerti perkataan orang lain
  • Sakit kepala luar biasa karena tubuh kehilangan daya keseimbangan
  • Mudah jatuh saat berdiri karena sulit melakukan koordinasi
  • Mengalami penglihatan ganda atau kabur

Apabila seseorang mengalami gejala-gejala tersebut sebaiknya langsung larikan menuju rumah sakit. Hindari mengambil pengobatan tradisional atau obat stroke lainnya sebelum penyakit memperoleh penanganan medis dari dokter.

Stroke nonhemoragik dapat diatasi sejak pertama kali merasakan penyakit tersebut. Biasanya pada tiga jam sejak awal mengalami stroke iskemik akan diberikan obat tissue plasminogen activator (TPA). 

Dimana selang infus sebagai media untuk ditaburi TPA guna melarutkan gumpalan darah. Namun, tidak semua orang dapat memperoleh TPA karena beresiko mengalami pendarahan.

Itulah pembahasan tentang perbedaan stroke hemoragik dan nonhemoragik hari ini, semoga artikel yang kami ulas bermanfaat untuk kalian. Jangan lupa untuk tetap olahraga dan menjaga kesehatan!

Next Article